Minggu, 05 Juni 2011

Impian yang bangkit......

Riuh riang suara anak-anak yang sedang bermain di pekarangan rumah. Dibawah pohon besar yang rindang mereka berkumpul sambil bermain, berbincang-bincang dan diselingi canda ria serta tingkah yang jenaka. Suasana sore yang saat ini merupakan pemandangan langka. Ya setelah 10 tahun berlalu, pohon besar itu telah lenyap untuk memenuhi kebutuhan orang-orang disekitarnya. Pohon besar itu telah beralih bentuk menjadi tiang-tiang dapur dan penahan atap rumah. Pekaranganpun sudah semakin menyusut lapangnya, berubah menjadi sekat-sekat kamar dan ruang. Keteduhan pohon, telah tergantikan dengan lindungan atap-atap konstruksi rumah dengan tambahan pendingin ruangan. Keakraban, keceriaan dan canda riang anak-anak berubah menjadi kesendirian, kegeraman dan dendam mengalahkan musuh-musuhnya dalam game-game petualangan di computer.
Ya anak-anak sedang asyik terbuai permainan yang mengurangi sifat-sifat sosialnya. Sosok kepahlawanan dengan segenap kemampuan yang tampil dalam game-game tersebut mendorong anak-anak tersebut ingin menjadi seperti mereka. Sebuah keinginan yang wajar bagi anak-anak. Dengan keterbatasn nalarnya  mereka membawa permainan itu menjadi sebuah sikap yang bisa dihadirkannya dalam realita keseharian. Belum lagi media-media hiburan lainnya seperti sinetron/film menggerogoti nilai-nilai moral dan budaya bangsa. Maka tidak heran saat ini kita menyaksikan anak-anak didik mulai SD, SMP dan SMA bahkan perguruan tinggi menampilkan kegarangan fisik dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Bahkan sikap ini secara estafet hadir dalam wahana social yang lebih elitis. Di pemerintahan, di legislative bahkan pada entitas-entitas  penegak hukum. Premanisme menjadi kekuatan lama yang tumbuh berkembang pesat saat ini.
Ya bangsa ini telah kehilangan figur yang memiliki nilai-nilai keteladanan dalam berbangsa dan bernegara. Ibu pertiwi bukan mandul. Karena kalau kita mau beromantika, telah banyak tercatat dalam sejarah tokoh-tokoh yang memiliki sifat sebagai negarawan, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Saat ini iklim yang melingkupi kehidupan rakyat dan bangsa ini tidak seimbang dengan imunitas yang dimilikinya. Idealisme menjadi barang mahal. Kompromisme kepentingan pribadi, kelompok dan kepentingan jangka pendek menjadi sebuah arena pertandingan yang selalu ingin dimenangkan oleh setiap peserta. Para pengawal idealism menurut mereka hanyalah para pahlawan kesiangan.
Pemerintah berusaha peduli atas kondisi ini, dengan menggali kembali nilai-nilai dasar berbangsa dan bernegara. Sebuah usaha yang dulu juga pernah dilakukan oleh rezim sebelumnya. Namun mengalami distorsi peradaban, dengan memanfaatkannya sebagai alat untuk memberangus dan membungkam pihak-pihak yang bersebrangan. Semoga usaha pemerintah kali ini tidak menyeret Negara dan rakyatnya menjadi arogan terhadap para pahlawan kesiangan.
Untuk itu nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dijadikan sebagai masukan kurikulum pengajaran. Karena kalau kita mau membandingkan dengan dunia pendidikan di Negara-negara lain, dunia pendidikan di Negara ini termasuk Negara yang terlalu banyak beban kurikulumnya. Kurikulum bahasa inggris misalnya, mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi, tapi kita mendapati anak bangsa ini masih belum fasih bercakap-cakap dengan bahasa inggris. Dan bahkan lembaga-lembaga kursus bahasa asing ini menjamur, untuk mengupgrade kemampuan anak bangsa atau ada juga yang hanya kepentingan komersial belaka. Keterampilan berbahasa dan nilai-nilai hidup budaya akan mudah dicerna dan melekat kalau itu menjadi kebiasaan dalam keseharian.
Nah yang kita butuhkan dari nilai-nilai itu bukan hanya berhenti di kurikulum pendidikan. Tapi kita butuh contoh keteladanan hidup yang nyata dari nilai-nilai tersebut. Dan ada kemauan yang kuat dari rakyat untuk meneladaninya. Tidak bertepuk sebelah tangan.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.