Terasa sulit untuk menulis.... Mungkinkah hati sedang galau. Mungkinkah tidak ada yang terlintas di pikiran atau terlalu banyak yang melintas jadi tidak fokus. Atau kemalasan mendera jari-jari untuk merangkai kata-kata. Ya bingung apa yang mau ditulis. Ingin menjaga kualitas agar setiap tulisan mampu menghibur dan mengandung hikmah. Ya untuk kali ini biarlah hikmah yang masih tersembunyi.
Paling tidak jari-jari ini tersalurkan hasratnya untuk menari-nari diatas keyboard komputer. Dan juga sebagai catatan untuk penulisan berikutnya, ide-ide yang tertuang belum sepenuhnya tuntas. Jadi akan diselesaikan pada tulisan-tulisan berikutnya. Semoga semangat tetap terjaga. Sebab ide tidak akan tertuang kalau semangat kendur.
Tertarik dengan kisah tentang betapa banyak jumlah yang sedikit lebih unggul dibanding jumlah yang banyak. Jumlah sedikit yang memang sedikit pula diharapkan oleh orang-orang pilihan. Jumlah sedikit yang ternyata lebih dipandang oleh Allah SWT. Jumlah sedikit dengan lipatan kekuatan yang luar biasa. Ini ide pertama yang sudah menggelayut di pikiran untuk segera turun membentuk kisah.
Ketabahan dan keteguhan serta kesabaran dalam menjalankan misi yang telah diukir para Nabi dan Rasul. Misi dari Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Tahu diamanahkan kepada orang-orang pilihan-Nya. Ketika Dia memilih maka tidak terbantahkan kualitasnya, bukan hanya sisi kenabian dan kerasulannya tapi juga sisi kemanusiaannya. Namun kita melihat ada dua bentuk ujian kepada para nabi dan rasul ini. Ada yang diuji dengan sisi kepribadiannya tanpa melibatkan umatnya. Pertempuran kebulatan tekad dirinya dengan godaan Syaithan. Ya mereka ya sering disebut sebagai nabi. Ada pula yang diuji dengan kesombongan umatnya. Dicaci, dimaki, diusir dari kampung halamannya bahkan dibunuh. Bahkan ada gelar tersendiri pada beberapa Rasul, yaitu Ulul Azmi. Nah tema Ulul Azmi ini juga rencana mau diangkat dalam tulisan berikutnya.
Terus yang ketiga nih.. Ide yang muncul dari ceramah seorang Presiden Partai, yang mengatakan betapa negeri ini adalah negeri sisa. Kenapa...? Karena yang baik-baik semuanya di ekspor. Betulkah.. bukankah itu tuntutan perdagangan ada supplies and demand. Dan supplies yang diminta oleh demand pada negara kita adalah produk yang berkualitas. Kita setuju. Namun alangkah ironinya, karena kebutuhan dalam negeri masih jauh dari tercukupi. Penduduknya masih dalam taraf perkembangan fisik untuk mengimbangi tuntutan produktifitasnya dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Ironi lainnya adalah ternyata negeri-negeri jiran juga mengimpor ke negara kita. Wah produk bermerk dan berkualitas donk. Ternyata tidak yang diekspor ke negara kita adalah sampah, yaitu baju-baju bekas, plastik bekas, bahkan kondom bekas yang bukan saja menjijikkan tapi juga mengandung timbal atau racun yang berbahaya bagi tanah kita.
Yang terakhir sampai tulisan ini dibuat adalah tentang rumah masa depan. Bukan ide baru juga sih. Hanya ingin menjadi bahan penyegar iman dan ingatan setiap kali nanti membacanya dengan rumah masa depan bagi kita semua. Ya siapapun kita, apapun posisi kita, dimanapun kita, telah sama-sama mengajukan kredit pemilikan rumah masa depan. Kenapa kredit, karena nantinya di rumah masa depan ini kita akan mengangsur bayaran atas apa yang telah kita lakukan waktu di dunia. Dari ukuran matematikan manusia, ukuran rumah masa depan ini bagi setiap orang adalah sama. Tapi banyak kisah, menceritakan betapa setiap orang akan mendapatkan kondisi yang berbeda ketika berada didalamnya. Ada yang merasa lapang dan terang. Ada yang merasa sempit dan gelap...
Begitulah ide-ide yang masih terpasang di pikiran ini. Semoga bisa menuntaskannya dalam waktu berikutnya. Atau ada Brother and Sister to join with me... Please completely my stories....




0 komentar:
Posting Komentar
Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.