Minggu, 19 Juni 2011

Cermin yang berkabut

Jam 06.30 pagi mencoba bangkit dari tempat tidur. Dari balik jendela kamar, terhampar pemandangan gedung-gedung menjulang menghiasi wajah Ibu Kota Jayakarta. Suasana agak mendung, awan kelabu menyelimuti angkasa Jayakarta. Ku melangkah ke kamar mandi hotel berbintang ini. Ya karena tugas kantor lah, bisa menikmati berbagai macam hotel berbintang. Kalau pake kocek sendiri, bisa-bisa puasa Daud selama setahun kali ya. Bathtub warna kream tampak bersih. Kran air panas dan dingin terpasang di salah satu sisinya. Ku putar kedua kran itu untuk mendapatkan komposisi air hangat yang ku inginkan. Airpun mengucur dari shower. Setelah pas ukurannya, kubasuh seluruh tubuh ini. Terasa segar, setelah semalaman kerja lembur menuntaskan laporan semeseteran.Uap air hangat  memenuhi kamar mandi. Sabun dan shampo dengan aroma therapinya turut serta memberikan relaksasi kepada badan dan kepala. Ritual mandi itupun selesai. Ku turun dari bathtub menuju cermin.
Rupanya uap dari kran tadi telah menjadikan cermin yang ada di kamar mandi menjadi berkabut. Buram diselimuti uap tadi. Ku tatap cermin itu, mulanya tidak menampilkan bayangan yang ada didepannya.Karena diburu waktu, ku ambil handuk kecil dan ku bersihkan cermin itu.Sekarang menjadi jelas bayangan diri di dalam cermin. Kumis dan janggut kurapikan. Terpaku diri menatap pada cermin. Ya cemin ini tadi berkabut.
Kurefleksikan cermin itu pada analogi ketokohan, figuritas, dan panutan. Sementara aku yang berdiri di depan cermin adalah para pengikut, kaum, rakyat atau orang awam.
Ketika para pengikut, kaum, rakyat atau orang awam mendapatkan sesuatu yang menghalangi dirinya dengan sang panutan, tokoh, atau figur, ibarat cermin yang sedang berkabut. Ya ketika sang pengikut tidak dapat lagi mencontoh sang panutan, ada hijab yang menghalangi kedua pihak ini. Apakah sang pengikut ini akan membuang cerminnya, membiarkannya berkabut, atau membersihkannya. Membuang dan mencari cermin baru. Membersihkan ala kadarnya. Atau menjadikannya kilau seperti semula sehingga semua bayangan dapat dipantulkan dengan sempurna.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.