This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 16 Juli 2011

Patung yang bernyawa

Waktu berkunjung yang sangat singkat. Datang jam 09.30 wib dan sekarang Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 wib, waktunya saya untuk pamitan dengan adik dan tetangga merangkap saudara yang masih tinggal di bilangan Gajah Mada. Ya karena saya harus segera menuju bandara Soetta, untuk melanjutkan penerbangan ke kota Gudeg. Agenda saya adalah menengok anak pertama dan kedua yang sedang melanjutkan studinya di tingkat Lanjutan Pertama di pelosok Barat kota Jogja. Setelah berpamitan, ku panggil tukang ojeg untuk menghantar saya kembali ke hotel di sekitar Mangga Besar. Hotel tempat beberapa hari ini kami melakukan penyusunan Laporan Keuangan. Sesampai di loby hotel, rupanya teman yang akan menuju bandara sudah menunggu. Aku pun berpesan, sebentar ya saya packing di kamar dulu. Saya mempercepat langkah kaki untuk menuju kamar hotel. Sekitar 10 menit saya merapikan diri untuk segera meluncur ke bandara.
Sebuah taksi telah menunggu di depan hotel. Bertiga kami bergegas menuju taksi. Taksipun meluncur, tidak terlalu padat arus lalu lintas karena hari itu memang hari Sabtu. Bincang-bincang sepanjang perjalanan menjadikan waktu kurang lebih 30 menit tidak kami rasakan, ternyata kami sudah sampai di bandara.
Kebetulan saya yang pertama turun, kami saling bersalaman dan mendoakan untuk keselamatan bersama sampai di tempat tujuan.
Suasana yang cukup ramai mewarnai ruang keberangkatan bandara, dilengkapi dengan berbagai macam kesibukannya dari setiap orang yang ada disitu. Setelah print e-tiketing, saya pun menuju ruang check in. Melanjutkan ke ruang tunggu. Satu dua orang rupanya saya kenal, dari tegur sapa sekedarnya, sayapun mengobrol dengan salah satu dari yang ku kenal. Sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba ada sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa penerbangan yang dituju oleh teman ini berpindah pintu keberangkatan. Berduyun-duyun orang yang sudah menunggu di pintu keberangkatan yang tertera dalam tiket menuju pintu keberangkatan yang diumumkan tadi. Ada yang menggerutu, ada juga yang menanggapinya biasa. Ya karena memang seringkali seperti ini yang terjadi.
Tiba-tiba ada seorang penumpang yang duduk menghampiri disampingku. Bapak ini rupanya satu tujuan dengan saya. Obrolan yang mulanya biasa, kemudian mulai serius, Bapak ini mulai menawarkan sebuah bisnis kepada saya. Beliau mengatakan, jadikan bisnis ini sebagai penghasilan tambahan. Sederhana sebenarnya, hanya mengajak orang untuk melakukan Umroh melalui travel yang dikelolanya. Hemm... menarik sebenarnya, karena disamping dapat komisi, sayapun punya kesempatan untuk Umroh gratis bila dapat mencari sejumlah jamaah untuk melakukan Umroh.
Tapi bukan itu yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini. Tapi keberanian Bapak tas di untuk memulai menegur kemudian berbincang-bincang sederhana sampai pada tawaran bisnisnya adalah ANUGERAH dari sebuah komunikasi. Saya jadi ingat dengan sindiran sosial dari sebuah dosen bahasa pada saat aku masih duduk di tingkat dua sebuah program diploma. Dosen ini memperhatikan sikap dan tingkah laku dari para penumpang disebuah angkutan umum, yang dia tumpangi ketika menuju kampus. Fenomena yang menjurus pada sikap acuh tak acuh dengan lingkungan bahkan cenderung egois. Beliau mengatakan betapa seperti dalam areal pemakaman ketika duduk dalam kendaraan umum. Sepi tidak ada komunikasi diantara para penumpangnya. Mereka duduk saling berdampingan tapi tidak ada sepotong katapun terdengar. Dosen ini mengatakan, jika kondisinya seperti ini, kita tidak ubahnya seperti boneka-boneka peraga di toko-toko baju yang dijejer berpasangan di angkutan umum. Ya karena tidak ada komunikasi. Tidak ada aliran kata-kata diantara mereka. Yang membedakan kita dengan boneka-boneka itu adalah kita mampu bernafas atau memiliki nyawa sementara boneka-boneka itu tidak.
Bayangkan kondisi ini berlangsung setiap hari. Padahal kalau saja komunikasi itu berjalan, bisa saja akan menambah kenyamanan kita dalam perjalanan karena semakin banyak orang yang selalu bertemu dalam aktifitas harian kita dalam angkutan umum itu sudah kita kenal. Karena kita berangkat dalam jam yang sama. Rute yang sama. Dengan kendaraan umum yang sama. Pernahkah kita mengalaminya....

Minggu, 19 Juni 2011

Cermin yang berkabut

Jam 06.30 pagi mencoba bangkit dari tempat tidur. Dari balik jendela kamar, terhampar pemandangan gedung-gedung menjulang menghiasi wajah Ibu Kota Jayakarta. Suasana agak mendung, awan kelabu menyelimuti angkasa Jayakarta. Ku melangkah ke kamar mandi hotel berbintang ini. Ya karena tugas kantor lah, bisa menikmati berbagai macam hotel berbintang. Kalau pake kocek sendiri, bisa-bisa puasa Daud selama setahun kali ya. Bathtub warna kream tampak bersih. Kran air panas dan dingin terpasang di salah satu sisinya. Ku putar kedua kran itu untuk mendapatkan komposisi air hangat yang ku inginkan. Airpun mengucur dari shower. Setelah pas ukurannya, kubasuh seluruh tubuh ini. Terasa segar, setelah semalaman kerja lembur menuntaskan laporan semeseteran.Uap air hangat  memenuhi kamar mandi. Sabun dan shampo dengan aroma therapinya turut serta memberikan relaksasi kepada badan dan kepala. Ritual mandi itupun selesai. Ku turun dari bathtub menuju cermin.
Rupanya uap dari kran tadi telah menjadikan cermin yang ada di kamar mandi menjadi berkabut. Buram diselimuti uap tadi. Ku tatap cermin itu, mulanya tidak menampilkan bayangan yang ada didepannya.Karena diburu waktu, ku ambil handuk kecil dan ku bersihkan cermin itu.Sekarang menjadi jelas bayangan diri di dalam cermin. Kumis dan janggut kurapikan. Terpaku diri menatap pada cermin. Ya cemin ini tadi berkabut.
Kurefleksikan cermin itu pada analogi ketokohan, figuritas, dan panutan. Sementara aku yang berdiri di depan cermin adalah para pengikut, kaum, rakyat atau orang awam.
Ketika para pengikut, kaum, rakyat atau orang awam mendapatkan sesuatu yang menghalangi dirinya dengan sang panutan, tokoh, atau figur, ibarat cermin yang sedang berkabut. Ya ketika sang pengikut tidak dapat lagi mencontoh sang panutan, ada hijab yang menghalangi kedua pihak ini. Apakah sang pengikut ini akan membuang cerminnya, membiarkannya berkabut, atau membersihkannya. Membuang dan mencari cermin baru. Membersihkan ala kadarnya. Atau menjadikannya kilau seperti semula sehingga semua bayangan dapat dipantulkan dengan sempurna.

Senin, 13 Juni 2011

Blank Ink atau Blank Think

Terasa sulit untuk menulis.... Mungkinkah hati sedang galau. Mungkinkah tidak ada yang terlintas di pikiran atau terlalu banyak yang melintas jadi tidak fokus. Atau kemalasan mendera jari-jari untuk merangkai kata-kata. Ya bingung apa yang mau ditulis. Ingin menjaga kualitas agar setiap tulisan mampu menghibur dan mengandung hikmah. Ya untuk kali ini biarlah hikmah yang masih tersembunyi.
Paling tidak jari-jari ini tersalurkan hasratnya untuk menari-nari diatas keyboard komputer. Dan juga sebagai catatan untuk penulisan berikutnya, ide-ide yang tertuang belum sepenuhnya tuntas. Jadi akan diselesaikan pada tulisan-tulisan berikutnya. Semoga semangat tetap terjaga. Sebab ide tidak akan tertuang kalau semangat kendur.
Tertarik dengan kisah tentang betapa banyak jumlah yang sedikit lebih unggul dibanding jumlah yang banyak. Jumlah sedikit yang memang sedikit pula diharapkan oleh orang-orang pilihan. Jumlah sedikit yang ternyata lebih dipandang oleh Allah SWT. Jumlah sedikit dengan lipatan kekuatan yang luar biasa. Ini ide pertama yang sudah menggelayut di pikiran untuk segera turun membentuk kisah.
Ketabahan dan keteguhan serta kesabaran dalam menjalankan misi yang telah diukir para Nabi dan Rasul. Misi dari Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Tahu diamanahkan kepada orang-orang pilihan-Nya. Ketika Dia memilih maka tidak terbantahkan kualitasnya, bukan hanya sisi kenabian dan kerasulannya tapi juga sisi kemanusiaannya. Namun kita melihat ada dua bentuk ujian kepada para nabi dan rasul ini. Ada yang diuji dengan sisi kepribadiannya tanpa melibatkan umatnya. Pertempuran kebulatan tekad dirinya dengan godaan Syaithan. Ya mereka ya sering disebut sebagai nabi. Ada pula yang diuji dengan kesombongan umatnya. Dicaci, dimaki, diusir dari kampung halamannya bahkan dibunuh. Bahkan ada gelar tersendiri pada beberapa Rasul, yaitu Ulul Azmi. Nah tema Ulul Azmi ini juga rencana mau diangkat dalam tulisan berikutnya.
Terus yang ketiga nih.. Ide yang muncul dari ceramah seorang Presiden Partai, yang mengatakan betapa negeri ini adalah negeri sisa. Kenapa...? Karena yang baik-baik semuanya di ekspor. Betulkah.. bukankah itu tuntutan perdagangan ada supplies and demand. Dan supplies yang diminta oleh demand pada negara kita adalah produk yang berkualitas. Kita setuju. Namun alangkah ironinya, karena kebutuhan dalam negeri masih jauh dari tercukupi. Penduduknya masih dalam taraf perkembangan fisik untuk mengimbangi tuntutan produktifitasnya dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Ironi lainnya adalah ternyata negeri-negeri jiran juga mengimpor ke negara kita. Wah produk bermerk dan berkualitas donk. Ternyata tidak yang diekspor ke negara kita adalah sampah, yaitu baju-baju bekas, plastik bekas, bahkan kondom bekas yang bukan saja menjijikkan tapi juga mengandung timbal atau racun yang berbahaya bagi tanah kita.
Yang terakhir sampai tulisan ini dibuat adalah tentang rumah masa depan. Bukan ide baru juga sih. Hanya ingin menjadi bahan penyegar iman dan ingatan setiap kali nanti membacanya dengan rumah masa depan bagi kita semua. Ya siapapun kita, apapun posisi kita, dimanapun kita, telah sama-sama mengajukan kredit pemilikan rumah masa depan. Kenapa kredit, karena nantinya di rumah masa depan ini kita akan mengangsur bayaran atas apa yang telah kita lakukan waktu di dunia. Dari ukuran matematikan manusia, ukuran rumah masa depan ini bagi setiap orang adalah sama. Tapi banyak kisah, menceritakan betapa setiap orang akan mendapatkan kondisi yang berbeda  ketika berada didalamnya. Ada yang merasa lapang dan terang. Ada yang merasa sempit dan gelap...
Begitulah ide-ide yang masih terpasang di pikiran ini. Semoga bisa menuntaskannya dalam waktu berikutnya. Atau ada Brother and Sister to join with me... Please completely my stories....

Jumat, 10 Juni 2011

Waroeng Harmony....

Siang yang cukup teduh, waktu bagi perut untuk di-charge. Pengunjung mulai hilir mudik keluar masuk dari warung ku. Mulai dari karyawan, sopir angkutan kota, ibu-ibu, dan kebanyakan adalah keluarga yang membawa 2 atau 3 orang anaknya. Warung yang sengaja kami buat dengan tampilan sederhana. Halaman parkir yang cukup luas dengan keteduhan pohon-pohon berada persis dipinggir jalan antar kota. Dan waktu ba'da maghrib sampai pukul sembilan malam merupakan puncak kunjungan dari para pembeli.
Suatu hari ada seorang pembeli yang memesan makan siang. Nasi, sayur sop ayam kampung dengan perkedel kentang dan segelas es teh manis. Dan setiap pembeli yang datang hampir selalu aku kenal. Tapi pembeli ini, usia sekitar 40 tahunan, baru kali ini saya melihatnya. Walaupun banyak juga pembeli yang kebetulan lewat dan mampir makan siang, nanti 1 bulan berikutnya baru kembali lagi. Namun bapak tadi berbeda tampilannya, bukan seperti orang yang sedang bepergian jauh, atau sedang berbelanja dagangan untuk dijual di kampung. Ya bapak ini seperti penduduk baru di sekitar warung kami. Setelah selesai makan, bapak itupun menuju kasir yang menanyakan berapa semua yang tadi dia makan. Saya bilang, dua puluh ribu pak. Sambil mengusap keringat di dahinya, diapun mengeluarkan uang dua puluh ribuan dan diberikan kepada saya. Terima kasih pak.
Dua hari berikutnya, ba'da Isya bapak tersebut datang bersama dengan seorang perempuan yang lebih muda sekitar 3 sampai 4 tahunan. Setelah duduk, tampak mereka sedang melihat daftar menu yang terpasang di atas meja. Sedikit berunding, mereka memesan beberapa makanan yang terdapat di daftar menu. Oh ya, dalam daftar menu tersebut juga tercantum harganya. Pesanan kali ini, Nasi, gulai kambing dan sate ayam serta jeruk hangat 2 porsi.  Kali ini agak lama mereka menunggu pesananannya, karena sate dan gulai adalah makanan yang fresh from oven. Tampak kelelahan di wajah mereka berdua. Tak lama kemudian pesanan diantar ke meja bapak tersebut. Seperti kunjungan sebelumnya, bapak itupun berdoa sebelum makan diikuti oleh perempuan itu. Suasana keakraban dan kehangatan mengiringi makan malam mereka. Setengah jam kemudian mereka selesai makan. Kemudian menuju ke kasir, dan bertanya berapa semuanya tiga puluh lima ribu pak. Ketika bapak ini mau membayar, tiba-tiba perempuan yang bersamanya berkata, "biar ibu aja yang bayar Yah... Ini mas, tiga puluh lima ribu...". Uang lima puluh ribu itupun diberikan kepada saya.
Sayapun tersenyum, dan bertanya : Maaf bu, ini suami ibu ?. Dengan sedikit bingung ibu itupun berkata : Iya, mas kenapa ?. Begini ibu, di warung kami ini ada perlakuan tarif yang berbeda bagi pembeli keluarga dan bujangan/sendiri. Kalau suami istri saja yang makan disini akan kami kenakan tarif 85% dari harga yang tercantum di daftar menu. Dan bagi yang membawa juga anak-anak mereka, jika dua orang akan kami kenakan tarif 75% dan jika lebih dari 2 anak kami kenakan tarif 70%. Nah kalo bujangan atau sendiri akan dikenakan tarif 100%.
Ibu dan bapak itupun terkejut.... Oh ya.. baru kali ini ada tarif warung seperti ini. Saya pun berkata : itulah bu - pak kenapa warung kami dinamakan waroeng Harmony... Kami berkeinginan mewujudkan keharmonisan di setiap keluarga melalui tarif yang lebih murah kepada keluarga-keluara yang makan di waroeng kami. Ada keinginan besar sebenarnya dari kami untuk memberikan tarif 50% kepada para keluarga. Hal ini karena kami ingat, agama Islam mewasiatkan bahwa kesempurnaan agama seseorang akan dipenuhi dengan menikah. Jadi kami ingin membeli setengah yang diberikan agama ini kepada pasangan yang menikah dengan memberikan tarif 50% dari harga didaftar menu. Namun itu masih cita-cita kami. Semoga Allah berkenan menguatkan kami untuk mewujudkannya.
Dan begini, adakalanya kesibukan ibu-ibu menjadikannya sempit untuk menghidangkan masakan pada suami dan anak-anaknya. Kalaupun tersedia, paling ala kadarnya, sehingga kualitas makanan menjadi menurun, jalan pintasnya adalah makanan-makanan siap saji yang terhidang di meja makan. Nah ini mengingatkan kami atas sebuah nasihat yang pernah disampaikan kepada mempelai wanita dalam sebuah pernikahan yaitu Sentiasalah engkau memperhatikan waktu tidur dan makan suamimu, kerana kelaparan akan membuat suamimu garang dan kekurangan tidur akan membuatnya mudah marah.
Dengan dua wasiat itulah bu, pak kami mencoba menghadirkan keharmonisan keluarga khususnya di lingkunga sekitar warung kami ini. Karena jika keluarga harmonis, lingkungan kitapun akan nyaman dan warung kamipun akan mendapat banyak kunjungan.
Oh pantas, waktu ayah pertama datang ke warung mas ini, banyak sekali pasangan yang membawa anak-anaknya kesini. Sayapun mengembalikan kelebihan uangnya kepada ibu tersebut. Namun sebelum meninggalkan kasir, terjadi obrolan kecil antar bapak itu dengan saya. Rupanya dua hari yang lalu bapak itu baru pindah tugas ke kota kami. Dan siang tadi baru datang menjemput istri dan kedua anaknya dari tempat tugasnya yang lama. Kedua anaknya ba'da magrib tertidur karena capek sehabis perjalanan. Damn akhirnya sebelum meninggalkan kasir, bapak ibu itupun mengucapkan : Assalamu'alaikum.... terima kasih Mas.... Wa'alaikum salam... oh ya, lain waktu ajak anak-anak ke sini bu, di belakang ada halaman tempat bermain anak-anak.... Insya Allah mas.... Bapak itupun keluar menggandeng istrinya dan sambil memasukkan selembar uang seratus ribu ke kotak amal yatim piatu yang tersedia di pintu masuk.....
Mas.... ini jus sirsaknya... Segelas jus yang dingin disodorkan kepada saya menyentuh ujung jari ini. Tersentak saya dari lamunan "WAROENG HARMONY". Ya karena datangnya makanan yang saya pesan di rumah makan ini cukup lumayan lama. Sedih, karena di sekitar saya, banyak pasangan yang membawa putra-putrinya makan malam di restoran ini. Ya sudah tahun keempat, ketika makan selalu sendiri.
Sobat, syukurilah kebersamaanmu bersama keluarga. Jadikanlah mereka sebagai penghibur mu. Atau jadikanlah diri anda sebagai penghibur mereka. Ajarkanlah anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang kokoh dari laboratorium rumah kita untuk menjadi penopang yang kuat di hari tua kita. Dan juga hiasilah istri kita dengan akhlaq yang mulai karena istri akan menjadi pendamping sampai hari tua kita.

Kamis, 09 Juni 2011

Mbah "G"

Beliau sedang duduk-duduk diteras, sambil memandangi setiap orang yang lalu lalang di depan rumahnya. Mbah, ini singkong rebusnya, enak loh pulen sekali. Mbah gak payah untuk mengunyahnya, coba deh. Sambil kudekatkan piring berisi ubi rebus kehadapannya. Sedikit dia tekan-tekan ubi rebus yang akan diambilnya, yang kemudian sepotong ubi rebus yang masih hangat sudah berpindah kedalam cengkraman jari tangannya. Lelaki yang aku panggil "Mbah" ini merupakan ayah dari ayah kandung saya. Beliau sedang berlibur di rumah. Sudah barang tentu, setiap sore ba'da ashar kami duduk-duduk mendengarkan cerita yang menghiasi rentang usianya. Penuh hikmah dan pelajaran, kadang sedikit mengundang gelak tawa bagi kami. Beliau dikenal sebagai orang yang teguh dalam memegang prinsip. Itupun dapat kurasakan dari sikapnya selama ini kepada kami. Keteguhan yang menghantarkan kedamaian bagi keluarga besar kami.
Di desa sebelah ada juga seorang yang sering kali dipanggil Mbah. Usianya juga menjelang senja. Kerut dahi dan mimik mukanya dipenuhi keluhan dari orang-orang yang datang kepadanya. Ya mereka datang dengan membawa permohonan dan permintaan kepada "Mbah" ini. Berawal dari kepiwaiannya dalam "menyembuhkan" penyakit dan "memenuhi" keinginan dari warga disekitarnya, kemudian dari mulut ke mulut tersebar luas sampai ke desa-desa dan kota-kota disekitarnya. Mbah ini tidak pernah menuntut pembayaran yang tinggi dari mereka. Warga sekitar membawa buah tangan sesuai dengan kadar kemampuannya. Kadang setandan pisang raja atau ayam betina dua ekor atau beberapa ikat sayur-sayuran. Bagi masyarakat luar desa yang datang, Mbah ini menyediakan kotak santunan yang beliau manfaatkan ala kadarnya untuk kebutuhan dirinya dan selebihnya untuk biaya perbaikan sarana dan prasarana desa. Semakin tinggi sugesti seseorang maka semakin mujarab penyembuhan dan pemenuhannya "Mba" ini kepada mereka.
Pada malam hari yang bertaburan bintang, kami berdua sedang asyik bersama Mbah duduk-duduk di teras. Anak-anakku asyik berlarian ke luar masuk teras dan ruang tengah. Namun sudah agak lama mereka tidak berlari-larian lagi, sehingga Mbah pun bertanya kemana anak-anakmu..? Oh iya Mbah, tadi minta izin ke saya untuk bermain internet. Mau apa mereka tanya si Mbah ku. Biasanya sih ada sesuatu yang ingin mereka cari atau chatting dengan teman-temannya...sebegitu datarnya jawaban yang kuberikan. Namun komentar Mbah yang membuat aku tersentak... Hati-hati cu, jangan biarkan sosok mu sebagai orang tua dirampas dari anak-anak oleh Internet apalagi Chatting...Mereka lebih suka bertanya dengan internet, mereka lebih suka berdiskusi dengan teman-teman dunia mayanya, mereka lebih percaya denga informasi yang didapat di internet dibanding bertanya kepada orang tuanya, dibandingkan berdiskusi dengan orang tuanya dan bahkan membandingkan jawaban orang tuanya dengan apa yang didapat di Internet.
Masya Allah... tersentak diri ini... betapa tidak, bahkan tidak jarang saya menyuruh mereka mencari di internet ketika dalam kesibukan kami, mereka bertanya banyak hal...
Ya kami jadi ingat kembali dengan sosok yang mulia, agung dan lembut, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan ke-ummi-annya mampu menyampaikan risalahnya kepada setiap orang yang dihadapinya. Sosoknya menjadi uswah kehidupan. Sosoknya menjadi sandaran solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi oleh umatnya. Sosoknya mampu meneduhkan setiap mata yang memandangnya. Sosoknya mampu melembutkan setiap tangan yang disalaminya. Sosoknya mampu menyemangati setiap pundak yang dirangkul dan ditepuknya. Sosoknya mampu menghadirkan optimisme dalam keterbatasan.Sosoknya mampu mendongakkan kepala yang tunduk dan merendahkan kepala yang angkuh.
Suatu ketika, seorang sahabat datang minta dinasehati tentang Islam, beliau menjawab Islam itu lima perkara dan seterusnya. Sahabat lain datang dan bertanya, beliau menjawab Jangan marah, bagimu surga. Sahabat lain datang dan bertanya, beliau menjawab berkata-katalah yang baik atau diam. Sahabat yang lain datang dan bertanya, beliau menjawab Ibu mu, ibu mu, ibu mu dan bapak mu.
Begitulah Rasulallah dengan bimbingan Allah SWT mampu memberikan jawaban yang tepat, diwaktu yang tepat dan pada orang yang tepat. Setiap jawaban yang diberikan, Beliau telah memahami kepribadian setiap sahabat yang datang kepadanya. Disamping itu juga karena kedekatan para sahabat dengan Rasulnya. Bukan hanya bahasa verbal yang ditangkap oleh Rasulullah namun juga bahasa non verbal bahkan dengan Kenabiannya beliau mampu melihat relung jiwa para sahabatnya.

Mbah..mbah... kearifanmu menyadarkan diri ini... Kadangkala aku tenggelam berdiskusi atau bernostalgia sampai malam hari di dunia maya. Jadi aku ingat kembali dengan ungkapan teman-teman, jika ada sesuatu yang kami cari tapi tidak ada yang tahu, Coba aja tanya sama "Mbah Google" ya "Mbah G". Karena dengan hanya tekan kata yang kita cari pada search engine Google, dalam itungan detik sekian hasil temuan tampil dihalaman. Ya "Mbah G' menjadi serba tahu. Apapun kata yang anda cari dalam sekejap akan ditemukan oleh "Mbah G".
Itulah keunggulan teknologi informasi. Keberadaannya adalah untuk mempermudah komunikasi dan interaksi. Namun yang perlu kita cermati adalah betapa masyarakat atau bahkan kitapun telah menaruh harapan yang begitu besar kepada "Mbah G" ini. Setiap permasalahan, "Mbah G" menjadi pintu untuk mencari solusi. Seperti "Mbah" yang di desa sebelah, segala permasalahan yang disampaikan oleh masyarakat yang datang kepadanya, selalu mendapat solusi.
"Mbah G"  merupakan bagian dari solusi. Mulai dari permasalahan pribadi, kerja, pertemanan, teknologi, ilmu pengetahuan dan agama. Akankah kita sebagai orang tua digantikan oleh "Mbah G". Akankah para guru tergantikan posisinya oleh   "Mbah G", akankah para ulama juga tergantikan fatwanya oleh   "Mbah G". Padahal kita tidak tahu kevalidan informasi yang diberikannya. Kita tidak tahu kebonafitan penulisnya. Kita tidak tahu kebenaranya yang diungkapnya. Kita tidak tahu keshalehan narasumbernya. Dan masih banyak hal lainnya yang seperti kita tidak tahu.
Berbeda dengan kita sebagai orang tua, Mbah ku  dan "Mbah" desa sebelah dalam menjawab setiap pertanyaan. Bukan hanya ungkapan kata yang kita perhatikan tapi juga bahasa tubuh dan pengenalan kita terhadap kepribadian/sifat/karakter orang yang bertanya. Sebagaimana ketika Rasulullah memberikan fatwanya kepada setiap sahabat yang menghadap kepadanya. Dan ini lah yang kita takutkan bila saja permasalahan agama, anak-anak kita lebih percaya dengan jawaban yang ditemukannya melalui "Mbah G" dari pada yang difatwakan oleh ustad kampung kita atau kita sebagai orang tuanya. Karena "Mbah G" akan menjawab sebuah pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama tanpa memilah-milah siapa yang bertanya.

Rabu, 08 Juni 2011

Tetap tegar menapak....

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia, karena keterbatasan waktu dan kapasitas kita dalam menyerap pelajaran maka demi kebijaksanaan kita bersama, penyampaian materi kali ini saya cukupkan sampai disini. Namun barangkali ada sesuatu yang perlu kita diskusikan saya persilahkan, bagi jamaah yang segan untuk berbicara langsung dapat menulisnya dalam selembar kertas. Suasana yang semula hening, kemudian menjadi agak ramai. Beberapa menit kemudian jamaah banyak yang mengangkat tangan minta kesempatan untuk berbicara. Dan ada beberapa lembar kertas yang berisi tulisan yang saya terima sore itu.
Kemudian mengalirlah pertanyaan dari bapak-bapak dan ibu-ibu dan jawaban yang saya berikan. Ada juga pertanyaan yang sangat jenaka yang biasa disampaikan oleh seorang jamaah, maka jawaban yang saya berikan pun juga diselingi seloroh dalam batasan yang tidak berlebihan. Perlu banyak siasat memang untuk mengelola sebuah majelis agar jamaah tidak bosan dan mengantuk selama pertemuan.
Baik kalau tidak ada pertanyaan lagi atau kita simpan untuk pertemuan berikutnya ya... saya cukupkan sampai disini. Semoga Allah dapat mempertemukan kita pada pertemuan bulan depan. Dengan istigfar kepada Allah dan saya mohon maaf bila selama penyampaian ada kata yang kurang berkenan bagi bapak ibu sekalian. Dan kita akhiri dengan sama-sama membaca doa penutup majelis. ....... Assalamu'alaikum warahmatullalhi wabarakatuh.
Di ujung waktu dhuha yang cukup cerah, pertemuan telah selesai dilaksanakan. Setelah bersalam-salaman saya minta ijin kepada pengelola untuk menggunakan ruangan kantor masjid tersebut. Ya karena ada seorang jamaah yang minta waktu secara khusus kepada saya melalui selembar kertas yang dibagikan tadi. Saya mengajak istri saya untuk menemani ke ruangan kantor karena jamaah itu adalah seorang ibu-ibu dengan 2 orang anaknya yang selama ini saya kenal sebagai penggerak dakwah di daerah yang saya datangi ini.
Saya memberi isyarat kepada isteri untuk menemani ibu tersebut menemui saya diruangan kantor masjid.
Dua orang anaknya yang jenaka bersenda gurau dengan anak-anak kami. Mereka memang sudah saling mengenal karena biasa ketika ada acara seperti ini anak-anak kamipun ikut serta, sehingga banyak mengenal anak-anak dari jamaah. Ya bukan hanya anak-anak, kamipun juga akrab dengan para orang tuanya. Maka sayapun juga menanyakan tentang kabar suaminya... Oh iya gimana kabar ayahnya Rosyid, bu ? sudah berapa bulan ini kami belum bertemu, hanya lewat telp dan sms, ya sesekali chatting dengan beliau. Alhamdulillah baik Ustad, tadi beliau bilang ada sesuatu yang mau diurus jadi tidak sempat menemani saya datang ke pertemuan ini.
Kamipun sampai di ruangan kantor dan langsung mengatur duduk di kursi yang telah tertata . Setelah berbasa-basi dengan istri saya dan saya, ibu itupun langsung bertanya kepada saya... Begini Ustad, saya ingin menyampaikan permasalahan yang sedang saya hadapi saat ini. Saya sepertinya sedang di uji oleh Allah SWT. Belakangan ini saya melihat dan merasakan sikap suami saya yang tidak seperti biasanya.
Saya sempat tersentak mendengar uraian awal dari ibu ini... Betapa tidak yang saya kenal ibu ini dan suaminya adalah seorang aktivis yang cukup giat di kota ini. Jadi saya perlu menajamkan bashirah ini untuk menangkap setipa uraian kata yang akan diucapkan ibu ini.
Ya suami saya sudah mulai melalaikan aktifitas hariannya, seperti tilawahnya sudah tidak pernah saya dengar berapa minggu ini dirumah, setiap malam terlewati begitu saja tanpa qiyamulllail. Dan saya sudah coba mengingatkan Ustad, tapi beliau hanya mengatakan sudah lah kita urus diri kita masing-masing. Dan beberapa bulan ini saya merasakan kehilangan sosok suami saya yang dulu. Sikapnya sudah acuh tak acuh kepada saya, bahkan saya seringkali didiamkan sampai melebihi tiga hari. Saat inipun saya juga sedang didiamkannya. Dan saya paling khawatir, karena anak-anak kami tahu perubahan sikap yang terjadi diantara kami.
Sekarang juga tidak ada lagi tilawah bersama dengan anak-anak yang dulu minimal seminggu dua kali kami lakukan. Buka bersama puasa sunnah setiap senin kamis, sengaja kami bada magrib rombongan ke rumah makan sebulan sekali minimal. Bahkan seringkali anak-anak mempertanyakan kepada saya, kenapa bu ya sekarang ayah jarang bersenda gurau dengan kami. Kalau ibu sedang pergi mengisi taklim, anak-anak beliau ayah lebih asyik berada di depan komputer. Itu anak saya yang tertua kelas 2 smp menyampaikan ke saya.
Oy ya anak ibu ini tiga. Ada perasaan yang menohok pada diri ini, karena apa yang disampaikan ibu ini pada dasarnya juga merupakan nasehat kepada saya. Dalam sebuah materi disampaikan bahwa bekal ruhiyah merupakan bekalan utama bagi seorang yang berada di jalan dakwah. Dan imunitas dirinya serta keluarganya merupakan figur bagi imunitas para jamaahnya.
Cerita ibu itupun berlanjut... Saya sebagai istri tidak terlalu banyak menuntut Ustad, menghadapi kondisi seperti ini, saya sudah berusaha bersikap biasa bahkan kadang saya berusaha bercanda dengan ayahnya anak-anak. Tapi kembali sikap suami saya acuh. Bahkan saya melihat akhir-akhir ini hijabnya dengan lawan jenis juga sangat longgar sekali. Saya khawatir ada pihak ketiga diantara kami. Apakah ini merupakan gangguan Jin, Ustad. Kemudian ibu inipun mendekap istri saya, mencoba untuk menahan agar air mata yang jatuh tidak sampai terlihat oleh kedua anaknya yang sedang bermain-main diruangan kantor masjid ini. Suasana hening. Saya terus berfikir dan merenung... Ya Allah sungguh ujian Mu kepada para Nabi dan Rasul juga akan diwariskan kepada orang-orang yang bersedia mewarisi tugas mereka.
Ustad, koq ngobrolnya lama sekali dengan ibu... dari arah samping suara anak ibu, membuyarkan perenunganku. Oh ya.. Insya Allah sebentar lagi ya nak... Ayo main bersama Ayi lagi nak, tuh dah ditunggu disana. Anak itupun berlari ke arah anakku yang nomor 5...
Ibu itupun melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata... Ustad kekhawatiran kami yang lebih lagi dari itu adalah... Kami takut dengan firman Allah yang menyebutkan Kaburo maktan 'indallahi antakulu mala taf alun...   Dengan aktifitas yang begitu banyak diamanahkan kepada kami, orang luar melihat kami seperti keluarga yang harmonis dan ideal.
Tak terasa Istighfarpun terucap melalui lisan ini... Dalam hatikupun berujar..betul Ibu, kami pun berlindung dari hal yang sedemikian...
Sepanjang cerita yang dilontarkan oleh ibu ini, lisan ini dan saya perhatikan istri saya juga sering kali mengucapkan Istighfar. Sampai akhirnya ibu itu merasa cukup menceritakan semuanya kepada saya yang juga didengar oleh istri saya yang merupakan teman dekat ibu ini.
Saya pun mulai berkata-kata... Gimana ibu sudah cukup penyampaiannya... Insya Allah ustad, saya mohon Ustad dapat memberikan nasehat kepada saya dan mohon kiranya luangkan waktu untuk bersilaturahim ke rumah bertemu dengan suami saya. Saya melihat beliau sangat dekat dengan Ustad.
Samar-samar sudah terdengar suara ihtiram dari pengeras suara masjid... Ya 5 menit lagi akan memasuki waktu Dzhuhur.. Sayapun berkata, ibu Insya Allah ba'da shalat dzhuhur ini kita lanjutkan pembicaraan ini. Untuk sementara kita bersama-sama pergi ke masjid  menunaikan shalat dzhuhur. Mudah-mudahan melalui shalat dzhuhur berjamaah ini, Allah akan memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Tak lama kemudian azan dzhuhurpun berkumandang.... Ketika kaki ini coba melangkah ke masjid, tak terasa buku yang saya pegang terjatuh.... Saya terbangun ... Astaghfirullah rupanya sudah adzan Shubuh dan saya tadi bermimpi. Ya setelah shalat malam saya mengulang kembali membaca buku "Bukan di Negeri Dongeng" rupanya baru beberapa cerita saya tertidur dan dibangunkan oleh suara adzan dari masjid di samping rumah. Allahu Akbar, amat besar Karunia-Mu pada kami ini.
Ya Allah dengan mimpi ini saya berdoa : Wahai pembolak-balik hati, teguhkanlah hati ini di jalan Mu dan Syariat-Mu.. Ya Allah berkahilah mata ini, telinga ini dan hati ini serta berkahilah istri dan anak-anak kami. Perbaikilah hubungan diantara kami, tundukkanlah hati ini kepada pasangan kami, sebagaimana Engkau tundukkan hati antara Nabi Muhammad dan siti Khadijah, seperti Ali dengan Fatimah.... Ya Allah kuatkanlah dan kokohkanlah setiap langkah yang kami lakukan.
Dan tak mungkin di jalan ini kami berjalan sendiri.. Engkau telah mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun di jalan-Mu, dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu. Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.
Akupun bangkit untuk berwudhu dan pergi menunaikan shalat shubuh berjamaah....

Nyatanya kecemburuan.......

Pernahkah anda merasa cemburu dan “cemburu” ? Ya, cemburu yang pertama adalah sebuah rasa kurang senang ketika melihat orang lain beruntung dan “cemburu” yang kedua adalah sebuah rasa kurang senang ketika melihat perbuatan/sikap/sifat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang universal dan keyakinannya.
Nah sejarah cemburu bisa kita ulang kembali disini. Cemburu yang pertama kali ditampakkan adalah kecemburuan para malaikat ketika Allah SWT berkehendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Tapi para malaikat bukan cemburu buta. Mereka mengemukakan alasan kepada Allah SWT (tentunya DIA telah mengetahui alasan apa yang akan diungkap para malaikat tersebut) yaitu mereka adalah makhluk yang tidak diragukan lagi kepatuhannya. Para malaikat selalu bertasbih Memuji dan Mensucikan Allah SWT. Sudah selayaknya kekhalifahan itu diberikan kepada para malaikat. Para malaikatpun mengajukan alasan tentang kekurangan manusia yaitu manusia selalu membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Kalau dilihat dari logika kita sangatlah logis alasan yang dikemukakan oleh para malaikat tersebut. Tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui, yang kemudian menyadarkan para Malaikat hakikat dari penciptaan Nabi Adam, penciptaan malaikat dan terlebih adalah hakikat Allah sebagai Pencipta semuanya.
Kecemburuan berikutnya adalah ketika Iblis laknatuLLAH menolak dan menyombongkan diri untuk ber”sujud” kepada Nabi Adam atas perintah ALLAH SWT.  Keengganan dan kesombongan Iblis juga beralasan. Iblis merasa lebih baik dan lebih dahulu dari Nabi Adam. Iblis  berasumsi penciptaannya yang dari api lebih baik dibanding Nabi Adam yang dari tanah liat. Lebih luas pengalaman dan wawasannya karena lebih dahulu keberadaannya dibanding Nabi Adam AS.  Sehingga Iblis merasa seharusnya Nabi Adam yang bersujud kepadanya atau semua bersujud hanya kepada Allah SWT.
Begitulah kemudian Allah SWT melaknat Iblis atas keengganan dan kesombongannya.  Namun Iblis minta dispensasi kepada Allah untuk diberikan umur panjang sampai kiamat datang dan akan menggoda keturunan nabi Adam.
Kecemburuan raja Abraha yang merasa tersaingi tempat ibadahnya dengan Ka’bah di kota Makkah. Yang akhirnya menyerbu kota Makkah dengan pasukan gajahnya ingin menghancurkan Ka’bah. Dan kita dapatkan Allah SWT melindungi Ka’bah dan menghancurkan Abraha beserta pasukan gajahnya.
Zaman terus bergulir sampai pada saatnya nanti. Penampakan rasa cemburu dengan berbagai perangai dan modelnya telah menghiasi perjalanan panjang umat manusia. Para Nabi dan Rasul pun tidak lepas dari ujian dan cobaan kecemburuan dari pihak-pihak yang dibelenggu oleh kepentingannya. Namun kecemburuan mereka membabi buta sehingga para nabi dan rasul itu ada yang dihina, difitnah, diusir dari kampungnya, dan bahkan sampai mengalami pembunuhan.
Para Nabi dan para Rasul itupun menjalankan misinya karena bentuk “kecemburuannya” atas ke Tauhidan umat dan kaumnya yang menyimpang dari Tauhid Yang Benar. Cemburu karena umatnya tidak mengabdi kepada Pencipta yang sesungguhnya. Mereka menyembah Patung-patung, Batu, Api, Matahari, dan makhluk-makhluk lainnya. Mereka merendahkan dirinya sebagai makhluk yang lebih sempurna dibandingkan dengan semua makhluk Allah SWT. Mereka melalaikan amanahnya sebagai Khalifah Allah dimuka bumi ini. Mereka membelenggu kemerdekaannya dengan tunduk kepada sesuatu yang lebih rendah dan hina dari dirinya.
“Kecemburuan” para Nabi dan Rasul adalah ingin mengembalikan kemerdekaan penghambaan kaumnya hanya kepada penciptanya, yaitu Tuhan Semesta Alam.  Melepas semua belenggu yang mengerdilkan kemanusiaannya sebagai Khalifah. Dan ini juga agar tidak muncul kecemburuan yang lebih besar yaitu “kecemburuan” dari Allah SWT.  Hal ini ketika manusia bermaksiat dan melakukan dosa. Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya”. Kecemburuan sebagai bukti kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya agar dapat kembali kepada-Nya dengan selamat.
Bahkan pada hari kiamat nanti ada yang menyebabkan para Nabi dan Syuhada yang “cemburu” dengan kedudukan orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, ya mereka berada diatas mimbar yang terbuat dari cahaya.
Nah kembali kepada pertanyaan diawal, pernahkah ada cemburu dan “cemburu”. Betul kita perlu menginventarisir kecemburuan mana yang paling determinan pada diri kita yang cemburu atau yang “cemburu”. Cemburu dengan tetangga yang selalu baru perabotan rumah tangganya. Cemburu dengan teman kita yang mampu membeli kendaraan terbaru. Cemburu dengan karir orang lain yang melesat dengan pesat. Kecemburuan yang membuat kita menjadi panas hati ini. Kecemburuan yang menelorkan upaya-upaya untuk menfitnahnya, bahwa hartanya itu tidak halal, hartanya dari “jalan lain”, dan menuduh karirnya karena nepotisme. Atau sebaliknya kita yang dicemburui oleh orang lain.
Kelompok  “cemburu” ini, ketika melihat anak kita asyik menonton siaran yang mempertontonkan kekerasan, aurat dan hedonisme. Cemburu melihat lingkungan dan masyarakatnya tenggelam dalam kemaksiatan. Cemburu ketika pasangan kita asyik berinternetan ria dengan non muhrim membahas hal-hal yang tidak berguna dan mengabaikan waktunya dengan keluarga. Cemburu ketika hak-hak Allah dilalaikan.  Bahkan harusnya kita cemburu pada diri sendiri ketika diri kita tenggelam dalam kemaksiatan. Hal ini karena betapa banyak kebaikan Allah yang telah diberikan kepada kita dan betapa dekatnya Allah mengawasi seluruh aktifitas kita.
Nah kalo cemburu yang paling awal tuh, kita kudu banyak istighfar dan evaluasi diri. Kalau perlu dari kecemburuan itu dapat menimbulkan energi positif yang memotivasi kita dengan cara-cara yang baik memperoleh sebagaimana yang kita cemburui tadi.
Sementara kecemburuan yang terakhir perlu kita tularkan kepada orang-orang disekitar kita. Jangan sebaliknya kita menjadi antipati sehingga mendapat julukan ad-dayyus sebagaimana dikatakan oleh rasulullah saw yaitu orang-orang yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Ya cemburu ketika mereka tidak memenuhi hak-hak Allah SWT. Seyogyanya kita ingat betapa banyak kebaikan-kebaikan Allah yang diberikan pada diri kita dan pengawasan melekat-NYA sehingga kita patut memberikan yang terbaik dalam pengabdian ini kepada Allah SWT.