Jumat, 10 Juni 2011

Waroeng Harmony....

Siang yang cukup teduh, waktu bagi perut untuk di-charge. Pengunjung mulai hilir mudik keluar masuk dari warung ku. Mulai dari karyawan, sopir angkutan kota, ibu-ibu, dan kebanyakan adalah keluarga yang membawa 2 atau 3 orang anaknya. Warung yang sengaja kami buat dengan tampilan sederhana. Halaman parkir yang cukup luas dengan keteduhan pohon-pohon berada persis dipinggir jalan antar kota. Dan waktu ba'da maghrib sampai pukul sembilan malam merupakan puncak kunjungan dari para pembeli.
Suatu hari ada seorang pembeli yang memesan makan siang. Nasi, sayur sop ayam kampung dengan perkedel kentang dan segelas es teh manis. Dan setiap pembeli yang datang hampir selalu aku kenal. Tapi pembeli ini, usia sekitar 40 tahunan, baru kali ini saya melihatnya. Walaupun banyak juga pembeli yang kebetulan lewat dan mampir makan siang, nanti 1 bulan berikutnya baru kembali lagi. Namun bapak tadi berbeda tampilannya, bukan seperti orang yang sedang bepergian jauh, atau sedang berbelanja dagangan untuk dijual di kampung. Ya bapak ini seperti penduduk baru di sekitar warung kami. Setelah selesai makan, bapak itupun menuju kasir yang menanyakan berapa semua yang tadi dia makan. Saya bilang, dua puluh ribu pak. Sambil mengusap keringat di dahinya, diapun mengeluarkan uang dua puluh ribuan dan diberikan kepada saya. Terima kasih pak.
Dua hari berikutnya, ba'da Isya bapak tersebut datang bersama dengan seorang perempuan yang lebih muda sekitar 3 sampai 4 tahunan. Setelah duduk, tampak mereka sedang melihat daftar menu yang terpasang di atas meja. Sedikit berunding, mereka memesan beberapa makanan yang terdapat di daftar menu. Oh ya, dalam daftar menu tersebut juga tercantum harganya. Pesanan kali ini, Nasi, gulai kambing dan sate ayam serta jeruk hangat 2 porsi.  Kali ini agak lama mereka menunggu pesananannya, karena sate dan gulai adalah makanan yang fresh from oven. Tampak kelelahan di wajah mereka berdua. Tak lama kemudian pesanan diantar ke meja bapak tersebut. Seperti kunjungan sebelumnya, bapak itupun berdoa sebelum makan diikuti oleh perempuan itu. Suasana keakraban dan kehangatan mengiringi makan malam mereka. Setengah jam kemudian mereka selesai makan. Kemudian menuju ke kasir, dan bertanya berapa semuanya tiga puluh lima ribu pak. Ketika bapak ini mau membayar, tiba-tiba perempuan yang bersamanya berkata, "biar ibu aja yang bayar Yah... Ini mas, tiga puluh lima ribu...". Uang lima puluh ribu itupun diberikan kepada saya.
Sayapun tersenyum, dan bertanya : Maaf bu, ini suami ibu ?. Dengan sedikit bingung ibu itupun berkata : Iya, mas kenapa ?. Begini ibu, di warung kami ini ada perlakuan tarif yang berbeda bagi pembeli keluarga dan bujangan/sendiri. Kalau suami istri saja yang makan disini akan kami kenakan tarif 85% dari harga yang tercantum di daftar menu. Dan bagi yang membawa juga anak-anak mereka, jika dua orang akan kami kenakan tarif 75% dan jika lebih dari 2 anak kami kenakan tarif 70%. Nah kalo bujangan atau sendiri akan dikenakan tarif 100%.
Ibu dan bapak itupun terkejut.... Oh ya.. baru kali ini ada tarif warung seperti ini. Saya pun berkata : itulah bu - pak kenapa warung kami dinamakan waroeng Harmony... Kami berkeinginan mewujudkan keharmonisan di setiap keluarga melalui tarif yang lebih murah kepada keluarga-keluara yang makan di waroeng kami. Ada keinginan besar sebenarnya dari kami untuk memberikan tarif 50% kepada para keluarga. Hal ini karena kami ingat, agama Islam mewasiatkan bahwa kesempurnaan agama seseorang akan dipenuhi dengan menikah. Jadi kami ingin membeli setengah yang diberikan agama ini kepada pasangan yang menikah dengan memberikan tarif 50% dari harga didaftar menu. Namun itu masih cita-cita kami. Semoga Allah berkenan menguatkan kami untuk mewujudkannya.
Dan begini, adakalanya kesibukan ibu-ibu menjadikannya sempit untuk menghidangkan masakan pada suami dan anak-anaknya. Kalaupun tersedia, paling ala kadarnya, sehingga kualitas makanan menjadi menurun, jalan pintasnya adalah makanan-makanan siap saji yang terhidang di meja makan. Nah ini mengingatkan kami atas sebuah nasihat yang pernah disampaikan kepada mempelai wanita dalam sebuah pernikahan yaitu Sentiasalah engkau memperhatikan waktu tidur dan makan suamimu, kerana kelaparan akan membuat suamimu garang dan kekurangan tidur akan membuatnya mudah marah.
Dengan dua wasiat itulah bu, pak kami mencoba menghadirkan keharmonisan keluarga khususnya di lingkunga sekitar warung kami ini. Karena jika keluarga harmonis, lingkungan kitapun akan nyaman dan warung kamipun akan mendapat banyak kunjungan.
Oh pantas, waktu ayah pertama datang ke warung mas ini, banyak sekali pasangan yang membawa anak-anaknya kesini. Sayapun mengembalikan kelebihan uangnya kepada ibu tersebut. Namun sebelum meninggalkan kasir, terjadi obrolan kecil antar bapak itu dengan saya. Rupanya dua hari yang lalu bapak itu baru pindah tugas ke kota kami. Dan siang tadi baru datang menjemput istri dan kedua anaknya dari tempat tugasnya yang lama. Kedua anaknya ba'da magrib tertidur karena capek sehabis perjalanan. Damn akhirnya sebelum meninggalkan kasir, bapak ibu itupun mengucapkan : Assalamu'alaikum.... terima kasih Mas.... Wa'alaikum salam... oh ya, lain waktu ajak anak-anak ke sini bu, di belakang ada halaman tempat bermain anak-anak.... Insya Allah mas.... Bapak itupun keluar menggandeng istrinya dan sambil memasukkan selembar uang seratus ribu ke kotak amal yatim piatu yang tersedia di pintu masuk.....
Mas.... ini jus sirsaknya... Segelas jus yang dingin disodorkan kepada saya menyentuh ujung jari ini. Tersentak saya dari lamunan "WAROENG HARMONY". Ya karena datangnya makanan yang saya pesan di rumah makan ini cukup lumayan lama. Sedih, karena di sekitar saya, banyak pasangan yang membawa putra-putrinya makan malam di restoran ini. Ya sudah tahun keempat, ketika makan selalu sendiri.
Sobat, syukurilah kebersamaanmu bersama keluarga. Jadikanlah mereka sebagai penghibur mu. Atau jadikanlah diri anda sebagai penghibur mereka. Ajarkanlah anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang kokoh dari laboratorium rumah kita untuk menjadi penopang yang kuat di hari tua kita. Dan juga hiasilah istri kita dengan akhlaq yang mulai karena istri akan menjadi pendamping sampai hari tua kita.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.