Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang berbahagia, karena keterbatasan waktu dan kapasitas kita dalam menyerap pelajaran maka demi kebijaksanaan kita bersama, penyampaian materi kali ini saya cukupkan sampai disini. Namun barangkali ada sesuatu yang perlu kita diskusikan saya persilahkan, bagi jamaah yang segan untuk berbicara langsung dapat menulisnya dalam selembar kertas. Suasana yang semula hening, kemudian menjadi agak ramai. Beberapa menit kemudian jamaah banyak yang mengangkat tangan minta kesempatan untuk berbicara. Dan ada beberapa lembar kertas yang berisi tulisan yang saya terima sore itu.
Kemudian mengalirlah pertanyaan dari bapak-bapak dan ibu-ibu dan jawaban yang saya berikan. Ada juga pertanyaan yang sangat jenaka yang biasa disampaikan oleh seorang jamaah, maka jawaban yang saya berikan pun juga diselingi seloroh dalam batasan yang tidak berlebihan. Perlu banyak siasat memang untuk mengelola sebuah majelis agar jamaah tidak bosan dan mengantuk selama pertemuan.
Baik kalau tidak ada pertanyaan lagi atau kita simpan untuk pertemuan berikutnya ya... saya cukupkan sampai disini. Semoga Allah dapat mempertemukan kita pada pertemuan bulan depan. Dengan istigfar kepada Allah dan saya mohon maaf bila selama penyampaian ada kata yang kurang berkenan bagi bapak ibu sekalian. Dan kita akhiri dengan sama-sama membaca doa penutup majelis. ....... Assalamu'alaikum warahmatullalhi wabarakatuh.
Di ujung waktu dhuha yang cukup cerah, pertemuan telah selesai dilaksanakan. Setelah bersalam-salaman saya minta ijin kepada pengelola untuk menggunakan ruangan kantor masjid tersebut. Ya karena ada seorang jamaah yang minta waktu secara khusus kepada saya melalui selembar kertas yang dibagikan tadi. Saya mengajak istri saya untuk menemani ke ruangan kantor karena jamaah itu adalah seorang ibu-ibu dengan 2 orang anaknya yang selama ini saya kenal sebagai penggerak dakwah di daerah yang saya datangi ini.
Saya memberi isyarat kepada isteri untuk menemani ibu tersebut menemui saya diruangan kantor masjid.
Dua orang anaknya yang jenaka bersenda gurau dengan anak-anak kami. Mereka memang sudah saling mengenal karena biasa ketika ada acara seperti ini anak-anak kamipun ikut serta, sehingga banyak mengenal anak-anak dari jamaah. Ya bukan hanya anak-anak, kamipun juga akrab dengan para orang tuanya. Maka sayapun juga menanyakan tentang kabar suaminya... Oh iya gimana kabar ayahnya Rosyid, bu ? sudah berapa bulan ini kami belum bertemu, hanya lewat telp dan sms, ya sesekali chatting dengan beliau. Alhamdulillah baik Ustad, tadi beliau bilang ada sesuatu yang mau diurus jadi tidak sempat menemani saya datang ke pertemuan ini.

Kamipun sampai di ruangan kantor dan langsung mengatur duduk di kursi yang telah tertata . Setelah berbasa-basi dengan istri saya dan saya, ibu itupun langsung bertanya kepada saya... Begini Ustad, saya ingin menyampaikan permasalahan yang sedang saya hadapi saat ini. Saya sepertinya sedang di uji oleh Allah SWT. Belakangan ini saya melihat dan merasakan sikap suami saya yang tidak seperti biasanya.
Saya sempat tersentak mendengar uraian awal dari ibu ini... Betapa tidak yang saya kenal ibu ini dan suaminya adalah seorang aktivis yang cukup giat di kota ini. Jadi saya perlu menajamkan bashirah ini untuk menangkap setipa uraian kata yang akan diucapkan ibu ini.
Ya suami saya sudah mulai melalaikan aktifitas hariannya, seperti tilawahnya sudah tidak pernah saya dengar berapa minggu ini dirumah, setiap malam terlewati begitu saja tanpa qiyamulllail. Dan saya sudah coba mengingatkan Ustad, tapi beliau hanya mengatakan sudah lah kita urus diri kita masing-masing. Dan beberapa bulan ini saya merasakan kehilangan sosok suami saya yang dulu. Sikapnya sudah acuh tak acuh kepada saya, bahkan saya seringkali didiamkan sampai melebihi tiga hari. Saat inipun saya juga sedang didiamkannya. Dan saya paling khawatir, karena anak-anak kami tahu perubahan sikap yang terjadi diantara kami.
Sekarang juga tidak ada lagi tilawah bersama dengan anak-anak yang dulu minimal seminggu dua kali kami lakukan. Buka bersama puasa sunnah setiap senin kamis, sengaja kami bada magrib rombongan ke rumah makan sebulan sekali minimal. Bahkan seringkali anak-anak mempertanyakan kepada saya, kenapa bu ya sekarang ayah jarang bersenda gurau dengan kami. Kalau ibu sedang pergi mengisi taklim, anak-anak beliau ayah lebih asyik berada di depan komputer. Itu anak saya yang tertua kelas 2 smp menyampaikan ke saya.
Oy ya anak ibu ini tiga. Ada perasaan yang menohok pada diri ini, karena apa yang disampaikan ibu ini pada dasarnya juga merupakan nasehat kepada saya. Dalam sebuah materi disampaikan bahwa bekal ruhiyah merupakan bekalan utama bagi seorang yang berada di jalan dakwah. Dan imunitas dirinya serta keluarganya merupakan figur bagi imunitas para jamaahnya.
Cerita ibu itupun berlanjut... Saya sebagai istri tidak terlalu banyak menuntut Ustad, menghadapi kondisi seperti ini, saya sudah berusaha bersikap biasa bahkan kadang saya berusaha bercanda dengan ayahnya anak-anak. Tapi kembali sikap suami saya acuh. Bahkan saya melihat akhir-akhir ini hijabnya dengan lawan jenis juga sangat longgar sekali. Saya khawatir ada pihak ketiga diantara kami. Apakah ini merupakan gangguan Jin, Ustad. Kemudian ibu inipun mendekap istri saya, mencoba untuk menahan agar air mata yang jatuh tidak sampai terlihat oleh kedua anaknya yang sedang bermain-main diruangan kantor masjid ini. Suasana hening. Saya terus berfikir dan merenung... Ya Allah sungguh ujian Mu kepada para Nabi dan Rasul juga akan diwariskan kepada orang-orang yang bersedia mewarisi tugas mereka.
Ustad, koq ngobrolnya lama sekali dengan ibu... dari arah samping suara anak ibu, membuyarkan perenunganku. Oh ya.. Insya Allah sebentar lagi ya nak... Ayo main bersama Ayi lagi nak, tuh dah ditunggu disana. Anak itupun berlari ke arah anakku yang nomor 5...
Ibu itupun melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata... Ustad kekhawatiran kami yang lebih lagi dari itu adalah... Kami takut dengan firman Allah yang menyebutkan Kaburo maktan 'indallahi antakulu mala taf alun... Dengan aktifitas yang begitu banyak diamanahkan kepada kami, orang luar melihat kami seperti keluarga yang harmonis dan ideal.
Tak terasa Istighfarpun terucap melalui lisan ini... Dalam hatikupun berujar..betul Ibu, kami pun berlindung dari hal yang sedemikian...
Sepanjang cerita yang dilontarkan oleh ibu ini, lisan ini dan saya perhatikan istri saya juga sering kali mengucapkan Istighfar. Sampai akhirnya ibu itu merasa cukup menceritakan semuanya kepada saya yang juga didengar oleh istri saya yang merupakan teman dekat ibu ini.
Saya pun mulai berkata-kata... Gimana ibu sudah cukup penyampaiannya... Insya Allah ustad, saya mohon Ustad dapat memberikan nasehat kepada saya dan mohon kiranya luangkan waktu untuk bersilaturahim ke rumah bertemu dengan suami saya. Saya melihat beliau sangat dekat dengan Ustad.
Samar-samar sudah terdengar suara ihtiram dari pengeras suara masjid... Ya 5 menit lagi akan memasuki waktu Dzhuhur.. Sayapun berkata, ibu Insya Allah ba'da shalat dzhuhur ini kita lanjutkan pembicaraan ini. Untuk sementara kita bersama-sama pergi ke masjid menunaikan shalat dzhuhur. Mudah-mudahan melalui shalat dzhuhur berjamaah ini, Allah akan memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Tak lama kemudian azan dzhuhurpun berkumandang.... Ketika kaki ini coba melangkah ke masjid, tak terasa buku yang saya pegang terjatuh.... Saya terbangun ... Astaghfirullah rupanya sudah adzan Shubuh dan saya tadi bermimpi. Ya setelah shalat malam saya mengulang kembali membaca buku "Bukan di Negeri Dongeng" rupanya baru beberapa cerita saya tertidur dan dibangunkan oleh suara adzan dari masjid di samping rumah. Allahu Akbar, amat besar Karunia-Mu pada kami ini.
Ya Allah dengan mimpi ini saya berdoa : Wahai pembolak-balik hati, teguhkanlah hati ini di jalan Mu dan Syariat-Mu.. Ya Allah berkahilah mata ini, telinga ini dan hati ini serta berkahilah istri dan anak-anak kami. Perbaikilah hubungan diantara kami, tundukkanlah hati ini kepada pasangan kami, sebagaimana Engkau tundukkan hati antara Nabi Muhammad dan siti Khadijah, seperti Ali dengan Fatimah.... Ya Allah kuatkanlah dan kokohkanlah setiap langkah yang kami lakukan.
Dan tak mungkin di jalan ini kami berjalan sendiri.. Engkau telah mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun di jalan-Mu, dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu. Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu.Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.
Akupun bangkit untuk berwudhu dan pergi menunaikan shalat shubuh berjamaah....