Waktu berkunjung yang sangat singkat. Datang jam 09.30 wib dan sekarang Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 wib, waktunya saya untuk pamitan dengan adik dan tetangga merangkap saudara yang masih tinggal di bilangan Gajah Mada. Ya karena saya harus segera menuju bandara Soetta, untuk melanjutkan penerbangan ke kota Gudeg. Agenda saya adalah menengok anak pertama dan kedua yang sedang melanjutkan studinya di tingkat Lanjutan Pertama di pelosok Barat kota Jogja. Setelah berpamitan, ku panggil tukang ojeg untuk menghantar saya kembali ke hotel di sekitar Mangga Besar. Hotel tempat beberapa hari ini kami melakukan penyusunan Laporan Keuangan. Sesampai di loby hotel, rupanya teman yang akan menuju bandara sudah menunggu. Aku pun berpesan, sebentar ya saya packing di kamar dulu. Saya mempercepat langkah kaki untuk menuju kamar hotel. Sekitar 10 menit saya merapikan diri untuk segera meluncur ke bandara.
Sebuah taksi telah menunggu di depan hotel. Bertiga kami bergegas menuju taksi. Taksipun meluncur, tidak terlalu padat arus lalu lintas karena hari itu memang hari Sabtu. Bincang-bincang sepanjang perjalanan menjadikan waktu kurang lebih 30 menit tidak kami rasakan, ternyata kami sudah sampai di bandara.
Kebetulan saya yang pertama turun, kami saling bersalaman dan mendoakan untuk keselamatan bersama sampai di tempat tujuan.
Suasana yang cukup ramai mewarnai ruang keberangkatan bandara, dilengkapi dengan berbagai macam kesibukannya dari setiap orang yang ada disitu. Setelah print e-tiketing, saya pun menuju ruang check in. Melanjutkan ke ruang tunggu. Satu dua orang rupanya saya kenal, dari tegur sapa sekedarnya, sayapun mengobrol dengan salah satu dari yang ku kenal. Sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba ada sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa penerbangan yang dituju oleh teman ini berpindah pintu keberangkatan. Berduyun-duyun orang yang sudah menunggu di pintu keberangkatan yang tertera dalam tiket menuju pintu keberangkatan yang diumumkan tadi. Ada yang menggerutu, ada juga yang menanggapinya biasa. Ya karena memang seringkali seperti ini yang terjadi.
Tiba-tiba ada seorang penumpang yang duduk menghampiri disampingku. Bapak ini rupanya satu tujuan dengan saya. Obrolan yang mulanya biasa, kemudian mulai serius, Bapak ini mulai menawarkan sebuah bisnis kepada saya. Beliau mengatakan, jadikan bisnis ini sebagai penghasilan tambahan. Sederhana sebenarnya, hanya mengajak orang untuk melakukan Umroh melalui travel yang dikelolanya. Hemm... menarik sebenarnya, karena disamping dapat komisi, sayapun punya kesempatan untuk Umroh gratis bila dapat mencari sejumlah jamaah untuk melakukan Umroh.
Tapi bukan itu yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini. Tapi keberanian Bapak tas di untuk memulai menegur kemudian berbincang-bincang sederhana sampai pada tawaran bisnisnya adalah ANUGERAH dari sebuah komunikasi. Saya jadi ingat dengan sindiran sosial dari sebuah dosen bahasa pada saat aku masih duduk di tingkat dua sebuah program diploma. Dosen ini memperhatikan sikap dan tingkah laku dari para penumpang disebuah angkutan umum, yang dia tumpangi ketika menuju kampus. Fenomena yang menjurus pada sikap acuh tak acuh dengan lingkungan bahkan cenderung egois. Beliau mengatakan betapa seperti dalam areal pemakaman ketika duduk dalam kendaraan umum. Sepi tidak ada komunikasi diantara para penumpangnya. Mereka duduk saling berdampingan tapi tidak ada sepotong katapun terdengar. Dosen ini mengatakan, jika kondisinya seperti ini, kita tidak ubahnya seperti boneka-boneka peraga di toko-toko baju yang dijejer berpasangan di angkutan umum. Ya karena tidak ada komunikasi. Tidak ada aliran kata-kata diantara mereka. Yang membedakan kita dengan boneka-boneka itu adalah kita mampu bernafas atau memiliki nyawa sementara boneka-boneka itu tidak.
Bayangkan kondisi ini berlangsung setiap hari. Padahal kalau saja komunikasi itu berjalan, bisa saja akan menambah kenyamanan kita dalam perjalanan karena semakin banyak orang yang selalu bertemu dalam aktifitas harian kita dalam angkutan umum itu sudah kita kenal. Karena kita berangkat dalam jam yang sama. Rute yang sama. Dengan kendaraan umum yang sama. Pernahkah kita mengalaminya....





0 komentar:
Posting Komentar
Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.