Dari jendela pesawat tampak hamparan awan laksana kapas. Putih keabu-abuan dan tampak lembut, menggoda untuk menyentuhnya. Awan kita kenal sebagai sebuah proses penguapan air menjadi titik-titik air yang terus berhimpun semakin membesar. Dan ketika pada satu titik tertentu (dengan ijin Allah tentunya) akibat gaya gravitasi bumi maka titik-titik air itu akan berubah menjadi air kembali yang jatuh ke permukaan bumi. Ada yang diserap oleh bumi menjadi tabungan-tabungan air dan ada juga yang langsung mengalir kembali melalui sebuah alur yaitu sungai sampai ke lautan.
Seorang teman pernah berujar, “Wah enak ya jadi orang kaya, uang selalu melimpah, tapi yang lebih enak ya anaknya orang kaya tinggal menikmati kekayaan orang tuanya.” Betulkah….. Nah apa hubungannya dengan awan, hujan dan alirannya. Begini pembaca, saat itu saya spontan mengilustrasikan komentar teman dengan mengatakan, “Orang kaya itu seperti orang yang tinggal di tepi sungai. Dengan limpahan airnya (=uang/sumberdaya) mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengambil air yang mengalir disungai tersebut.” Ya saya menganalogikan Kekayaan itu seperti air, ada yang berwujud awan kemudian menjadi hujan, ada yang dari hujan kemudian tersimpan dalam mata air yang mengalir dalam sungai-sungai bawah tanah, dari mata air ada yang kemudian menerobos keluar menjadi sumber air yang memancar, pancarannya bisa terhenti pada satu area kecil berupa kubangan atau danau, pancarannya dapat juga menjadi sebuah aliran sungai yang membawanya kembali berhimpun dalam lautan atau samudra yang luas.
Dalam sebuah pertemuan para bendahara, seorang bendahara struktur tertinggi dalam forum tersebut juga mengatakan,”Uang itu seperti lalu lintas air, tanpa kita sadari mereka berseliweran didepan, diatas dan dibawah kita. Ada yang perlu usaha keras untuk mendapatkannya, ada yang datang begitu saja kepada kita dan ada yang kemudian lenyap dari hadapan kita.”
Begitulah air atau begitulah uang sebagai bahan baku nilai kekayaan material. Kita mengenal julukan Kota hujan, ini ibarat sebuah kota yang cukup ramah dalam memberikan uang kepada penduduknya karena limpahan sumber daya ekonominya. Dan sungai merupakan lingkungan yang paling disenangi oleh para orang kaya dan keturunannya karena sebagai tempat mengalirnya sumber-sumber daya ekonomi. Sementara daerah lain, perlu waktu setahun untuk menunggu datangnya hujan.
Dan kita sesungguhnya tinggal di Negara yang lebih dekat persamaannya dengan peribaratan kota hujan tersebut yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Kalaupun tidak ada sungai, dengan sumur bor maka akan memancar air dari dalamnya. Jika pun terlalu mahal, cukup dengan menggali sebuah lubang yang berkedalam 4-6 meter menjadi sebuah sumur. Ya itu semua kadang kala merupakan pilihan-pilihan yang dapat kita lakukan atau memang sudah menjadi takdir hidup ini.





0 komentar:
Posting Komentar
Pengelola Blog tidak bertanggungjawab sepenuhnya atas komentar yang disampaikan. Untuk itu berikanlah komentar secara elegan sebagai kesatria dunia maya.